PASRAH TERPAKSA

 

PASRAH TERPAKSA

OLEH:Amelia r.(mek-insa)

Fajar telah terbit.Cahaya pagi memukul mataku untuk terbuka. Mataku perlahan ditarik keatas. Oleh cahaya itu. Menyadarkanku pada waktu. Jarum jam tertuju  pada angka 06:00. Waktu yang tepat sesuai janji kemarin.

Hari ini,aku akan menemani saudaraku berkunjung ke rumah temannnya Kami menganyunkan langkah menuju rumahnya ,tanpa menggunakan kendaraan. Tidak terlalu jauh kami hanya perlu melewati  beberapa sawah.

 pagi berhembusan pelan menyentuh jilbabku. Suasana sangat menyegarkan.Sebagian petani melakukan  aktivitas dengan alat andalannya  di sawah. Sebagian pedagang  berangkat dengan kendaraannya yang penuh dengan barang. Bagi mereka menyia-nyiakan waktu merupakan hal tercela, maka dari itu di pagi buta seperti ini mereka sudah beraktivitas.

Kami menghentikan langkah didepan bangunan bermodel L.Aku mengikuti saudaraku yang hendak menuju arah pintu.

TOK….TOK……TOK!  Pintu dibuka oleh seseorang

“Besar sekali energimu. Jam 6 begini kau datang .Benar-benar bintang murid pak hafizd”sapanya terkejut

“kau suka  saja memuji,kau ini akan mengerjakan tugas kelompok bersamaku berarti kau juga bintang muridnya “ucap saudarku membalas sapanya

Orang tadi mengajak kami memasuki ruangan. Lalu,mereka mengerjakan tugas sebagaimana diperintahkan pak hafizd. Sedangkan aku memilih untuk memainkan benda kecil yang menurutku berharga.Sedari tadi aku ditemani oleh adiknya orang tadi,Ridwan.Ia banyak bercerita t entang hai apapun.Jika  aku menilainya, ia sangat humoris.

Disaat aku sedang fokus mendengar cerita,aku mersa sesuatu  yang aneh entah mengapa . apa rasa ini hanya karena aku kelelahan?atau rasa ini  menandakan musibah?

Drrrtt…………

“Halo…”

“……..”

“Mengapa?”

“……….”

“Baiklah.”

Penting? Baru kali ini aku terjerumus dalam hal penting keluarga. Biasanya mereka menganggapku hanya seorang bocah yang tak pantas terlibat dalam hal-hal penting terutama keluarga. Namun,kenyataannya kelas 4 tetaplah seorang bocah,dan  aku tak mengerti dengan hal-hal semacam itu.

Aku langsung menuju keruang tengah menghampiri saudaraku  untuk menyampaikan  hal tadi. Saat aku menemui saudaraku ,matanya menahan tangisan seperti sedang dalam keadaan kacau. Ia segera menunutunuku pulang.

Disepanjang jalan,dalam benakku terdapat sebuah pertanyaan.Semakin banyak melangkah. Semakin terlihat rumah. Semakin tumbuh berbagai pertanyaan.

Seorang wanita  menghampiriku,ia jongkok agar bisa sejajar denganku yang kecil.,lalu ia mendekapku dan menangis hinnga membuat bajuku basah.

“Ada apa,bik?”Bibik hanya menatapku lekat dengan air mata  yang semakin deras.

“Ayahmu pergi” ucapnya cepat.aku mengernyit .

“Ayah,kan,memang merantau”Aku heran,mengapa bibik sangat terlihat kacau dan tangisannya semakin parah.Sedangkan saudaraku menenggelamkan tangisan didalam kamarnya yang sudah ia tutup rapat,serapat mungkin agar kesedihannya tidak nampak.

“Ayahmu memang pergi tapi ia takkan kembali karna ia telah…….huft,meninggal.”ucap bibik terbata-bata.aku terdiam oleh ucapan bibik .aku tidak ingin berada didalam situasi ini yang hanya akan menciptakan kehampaan.

“Ayah jahat!janjinya untuk kembali hanya dijadikan angan-angan yang hancur” ucapku lirih dengan air mata yang mengalir.

                                                            #          #          #

            Diujung senja,aku memandangi langit yang terus berubah warna seakan mengikuti irama jantung dan menyelimuti wajah kosong penuh tanya yang takkan menemukan jawabannya.

“Mengapa ayah meninggal disaat keprgianmu menyimpan banyak harapan?”

            Aku pasrah dengan semuanya yang terjadi. Termasuk dengan kepergian ayah walau pun terpaksa.

 

The end

Komentar